Transmisi Hadis Nabi, Sahabat, dan tabi'in

Home » Uncategories » Transmisi Hadis Nabi, Sahabat, dan tabi'in

Transmisi Hadis Nabi, Sahabat, dan tabi'in



MAKALAH
TRANSMISI HADITS
Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah Al – qur’an dan Hadits
Dosen Pengampu :
Ahmad Dahlan Lc. MA
Description: Description: C:\Documents and Settings\Tiwil\My Documents\UIN (Bunga).jpg

DISUSUN OLEH :
Miftahur Rahman 14530052
Ruwaidah Anwar
JURUSAN ILMU ALQURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah - Nya sehingga  kita masih diberi kesempatan menimba ilmu sebanyak - banyaknya dan dapat terseleseikan makalah yang berjudul Proes Transmisi Hadits pada masa Nabi, Sahabat, dan Tabi’in ini.
            Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita, Nabi Besar Muhammad S.A.W. Berkat jasa – jasa beliau yang sangat besar, yang telah membawa kita dari alam kegelapan, alam kebodohan, dan alam tak bermoral ke alam yang terang – benderang ini dengan dibuktikan adanya jurusan kita, Ilmu Al Qur’an dan Tafsir
            Penyusun Makalah ini mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pengampu Mata Kuliah Al Qur’an dan Hadits dan kepada phak pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan  makalah ini, semoga Allah membalas semua kebaikan kebaikan mereka.
            Penyusunan Makalah ini penulis merasa bahwa makalah ini masih banyak kekurangan  - - kekurangan maka dari itu kritik dan saran sangatlah diperlukan demi sempurnanya keilmuan yang kita miliki, Akhirnya, Penyusun mengucapkan maaf yang sebesar – besarnyarnya kepada pembaca apabila ada salah alam materi maupun dalam segi penulisan.

Yogyakarta , 12 November 2014
Penyusun


DAFTAR ISI
Kata Pengantar - 1
Daftar Isi - 2
Bab I Pendahuluan ­
            Latar Belakang - 3
            Rumusan Masalah ­­- 3
            Tujuan - 3
Bab II Pembahasan
Pengertian Transmisi Hadits ­- 4
Transmisi Hadits Pada Masa Nabi S.AW -  5
Transmisi Hadits Pada Era Sahabat - 7
Transmisi Hadits pada Era Tabi’in - 9
Bab III Penutup
            Kesimpulan - 15
            Saran -  15
Daftar Putaka - 16




BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Hadits merupakan segala perkataan Nabi saw, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya. Jumhur ‘ulama sepakat bahwasannya Hadits adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an dalam memahami Islam. Oleh karena kedudukannya yang begitu urgen dalam memahami agama, maka pengetahuan secara historis dalam hadits perlu di telusuri dan di kaji. Mempelajari hadis adalah bagian dari keimanan umat terhadap kenabian Muhammad Saw. Hal ini karena figur Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah Swt. Serta para sahabat dan ‘alim ulama yang menjadi penyambung lidah Rasulullah saw dalam menegakkan ad-Dinul Islam.
Melakukan pengkajian secara khusus tentang periwayatan hadis sangatpenting. Dengan menunjukkan macam-macam periwayatan hadis, adab atau tata cara periwayatan hadis, serta cara-cara menerima dan menyampaikan hadis dapat menunjang pemahaman umat terhadap hadits Nabi saw. Berikut akan di paparkan proses transmisi hadits pada Era Kenabian, Era Sahabat, dan Era Tabi’in.
B.        Rumusan Masalah
1.      Apa itu Proses Transmisi Hadits?
2.      Bagaimana Proses Transmisi Hadits Pada Era Nabi ?
3.      Bagaimana Proses Transmisi Hadits Pada Era Sahabat?
4.      Bagaimana Proses Transmisi Hadits Pada Era Tabi’in?

C.     Tujuan
Mengetahui proses periwayatan hadits pada era Nabi, Sahabat dan Tabi’in.

BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pengertian Transmisi Hadits
Menurut KBBI transmisi itu berarti 1. Pengiriman (penerusan) pesan , 2 penularan, penyebaran. Transmisi hadis bisa di artikan penyebaran hadis hadis Nabi. dalam ilmu hadits yang di maksud dengan transmisi hadis adalah Ar riwayah yaitu kegiatan penerimaan hadits , serta penyandaran hadis itu kepada rangkaian rangkaian para periwayatnya alam bentuk tertentu
Sebelum terhimpun dalam kitab-kitab hadis, hadis Nabi terlebih dahulu telah melalui proses kegiatan yang dinamai dengan riwayatulhadis atau al-riwayah, yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan periwayatan. Kata al-riwayah adalah masdar dari kata kerja rawa dan dapat berarti al-naql (penukilan), al-zikr (penyebutan), al-fatl (pemintalan) dan al-istoqa’ (pemberian minum sampai puas). Sementara sesuatu yang diriwayatkan, secara umum juga biasa disebut dengan riwayat. (Drs. H. EndangSoetari Ad., M.Si, IlmuHadis, (Bandung: AmalBaktiPerss, 1997), Cet. II, h. 67.)
Sementara secara istilah ilmu hadis, menurut M. Syuhudi Ismail yang dimaksud dengan al-riwayah adalah kegiatan penerimaan dan penyampaian hadis, serta penyandaran hadis itu kepada rangkaian para periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu. Orang yang telah menerima hadis dari seorang periwayat, tetapi dia tidak menyampaiakan hadis itu kepada orang lain, maka dia tidak dapat disebut sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis. Sekiranya orang tersebut menyampaiakan hadis yang diterimanya kepada orang lain, tetapi ketika menyampaikan hadis itu tidak menyebutkan rangkaian para periwayatnya, maka orang tersebut juga tidak dapat dinyatakan sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis.
Dari definisi di atas, dapat ditarik beberapa point penting yang harus ada dalam periwayatan hadis Nabi, yaitu:
1.    Orang yang melakukan periwayatan hadis yang kemudian dikenal dengan ar-rawiy (periwayat).
2.    Apa yang diriwayatkan (al-marwiy).
3.    Susunan rangkaian pera periwayat (sanad/isnad).
4.       Kalimat yang disebutkan sesudah sanad yang kemudian dikenal dengan matan.
5.    Kegiatan yang berkenaan dengan proses penerimaan dan penyampaian hadis (at-tahamulwaada al- Hadis).
B.           Transmisi Hadits Pada Masa Nabi saw
Al-Qur’an dan hadits merupakan dua hal yang tidak dapat di pisahkan. Selama 23 tahun Al-Qur’an di turunkan dan selama itu pula Rasulullah saw mengurai Al-Qur’an dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir-nya yang biasa di sebut Hadits.
Pada Era ini, Rasulullah saw menyampaikan hadits secara langsung kepada para Sahabat baik dalam majelis ‘ilmi, khutbah maupun ada pertanyaan dari permasalahan yang di hadapi para sahabat.
Para sahabat pun, memiliki perbedaan dalam menerima hadits. Di antaranya karena:
1.      Intensitas kesempatan bertemu Rasulullah saw.
2.      Kesanggupan dalam bertanya kepada para sahabat yang lain.
3.      Jarak tempat tinggal dengan kediaman/Majelis Rasulullah saw.
4.      Perbedaan waktu memeluk Islam, dan lain-lainnya.
 Itulah beberapa hal yang menyebabkan perbedaan dalam menerima hadits di kalangan Sahabat d masa Rasulullah saw. Selain itu, dalam proses penerimaan hadits Para sahabat memiliki beberapa metode:
1.      Menghafalkan Hadits
         Hal ini sesuai karakter masyarakat Arab, yang memiliki daya ingat yang tinggi dan senang menghafal.
2.   Menulis Hadits
         Ada beberapa orang di kalangan Sahabat yang berinisiatif menulis hadits dari Baginda Nabi saw walaupun Rasulullah saw tidak menyuruhnya. Mereka ialah:
v  Abdullah ibn Amr Al-Ash. Ia memiliki catatan hadits yang menurut pengakuannya di benarkan oleh Rasul saw, sehngga di beri nama al-Sahifah al-Shadiqah.
v  Jabir Abdillah ibn Amr al-Anshari (w.78 H). Ia memiliki catatan hadits tentang manasik haji. Catatan tersebut dinamakan Sahifah Jabir.
v  Abu Hurairah Ad Dausi (w. 59 H). Ia memiliki catatan hadits yang di sebut Al-Sahifah Al-Shahihah yang di wariskan kepada anaknya, Hammam.
v  Dan lain-lain.
            Berikut Cara Cara Nabi Menyampaikan Hadis
A.    Hadist disampaikan Nabi melalui majelis – majelis ilmu. Contoh Darul arqom, masjid, Dll.
B.     Nabi S.A.W menyampaikan hadisnya melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka , seperti pada peristiwa fathu mekkah dan haji wada’.
C.     Hadis disampaikan Dalam keadaan tertentu . Misalnya di PASAR untuk mencegah penipuan dalam perdagangan.
D.    Untuk perkara yang bersifat pribadi Nabi menyampaikan hadis melalui istrinya, seperti yang berkaitan dengan persoalan keluarga dan kebutuhan biologis – terutama masalah suami-istri.
E.     Selain hadis yang bersifat perkataan nabi juga mengajarkan hadis dengan perbuatan langsung yang di saksikan oleh sahabat , Seperti yang berkaitan dengan praktik – praktik ibadah dan muamalah.
F.      hadis di sampaikan dengan mengirim surat surat kepada raja.

C.           Transmisi Hadits Pada Era Sahabat

Para sahabat merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses transmisi hadits. Mereka adalah orang-orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw, meneguk risalahNya langsung dari sumber yang absolut. Era Sahabat berlangsung sekitar 11 H sampai dengan 40 H. Sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat memfokuskan diri pada pemeliharaan dan penyebaran al-Qur’an al-karim maka periwayatan hadits pada masa ini belum terlalu berkembang dan para sahabat terkesan membatasinya karena khawatir bercampur dengan Kitabullah. Oleh karena itu, masa ini dikenal sebagai masa yang menunjukkan adanya pembatasan periwayatan (al-tasabbut wa al-iqlal min al riwayah).
Sebelum kewafatannya, Rasulullah saw berpesan kepada umat Islam agar berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Hadits. Sabdanya:
تركت فىكم امرىن لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله و سنة نبىه (رواه مالك)
Artinya: “Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan (kalian) sesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (H.R. Malik dalam al-Muwaththa’).
Hadits ini memotivasi para sahabat untuk melaksanakan dan menjaga pesan-pesan Rasulullah saw. Inilah bukti cinta mereka pada Rasulullah saw, yakni dengan memelihara hal-hal yang di contohkan Nabi saw.
Para Sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menerima hadits. Contohnya, Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq yang meminta saksi kepada al-Mughirah yang menyebutkan hadits tentang harta warisan ketika ada seorang nenek yang menanyakan bagian warisannya untuk dirinya kepada Khalifah Abu Bakar.
Demikianlah sikap para sahabat dalam menerima dan meriwayatkan hadits pada masanya, perlu di ketahui bahwa pada masa ini belum ada kitab-kitab hadits yang resmi karena tempat mukim para sahabat yang berbeda-beda serta kesibukan dalam membina umat di berbagai wilayah.
Adapun metode periwayatan hadits pada masa ini ialah;
1.      Periwayatan Hadits dengan Lafazh
           Yaitu periwayatan hadits yang redaksinya atau matannya persis seperti yang di wurudkan Rasulullah saw. Ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang benar-benar hafal apa yang di sabdakan oleh Rasulullah saw. Keorisinalan matan hadits terjamin, karena tidak satu hurufpun di ubah oleh para Sahabat. Mayoritas Sahabat menggunakan metode ini.

2.      Periwayatan Hadits dengan Makna
Yakni periwayatan hadits yang matannya tidak persis sama dengan yang di dengarnya dari Rasulullah saw, tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh , sesuai dengan yang di maksudkan oleh Rasulullah saw tanpa ada perubahan sedikitpun. Sahabat Ibnu Mas’ud misalnya, ketika meriwayatkan hadits beliau menggunakan istilah-istilah tertentu. Seperti kalimat, قال رسول الله ص.م.هكذا (Rasulullah saw telah bersabda begini).

A.    Sahabat Abu Bakar Assiddiq
Abu Bakar adalah sahabat pertama yang menunjukkan kehati hatiannya dalam meriwayatka hadis, Baliau sangat berhati hati dalam meriwayatkan hadis karena untuk mencegah pemalsuan hadis.
Karena sahabat Abu Bakar sangat berhati hati dalam meriwayatkan hadits makaa hadisnya pun relative tidak banyak.  As suyuthi telah menghimpun hadits yang diriwayatkanoleh Abu Bakar dari berbagai mukhrij, sebanyak 692 hadis.
B.     Sahabat Umar bin Khattab
Pada masa Sahabat Umar seluruh sahabat focus terhadap bacaan Al Qur’an. Sahabat Umar bin Khattab adalah orang yang paling tegas menentang orang - orang yang menghamburkan riwayat hadis atau orang yang membawa hadis tapi tidak diperkuat dengan seorang saksi dan ia meminta sahabat untuk memperkecil jumlah riwayat atau tidak menghamburkannya. Hal ini dimaksudkan agar manusia tidak begiu saja mempermudah urusannya, lalu engan seenaknya memasukkan segala kepalsuan, agar tidak terhadi penipuan atau kebohongan baik dari orang - orang munafik dan orang - orang Arab Badui
C.     Sahabat Usman bin Affan
Penyebaran hadis pada masa sahabat usman lebih banyak dibandingkan dengan umar bin khattab karena pada masa  sahabat usman menjadi khalifah daerah kekuasaan islam telah luas. Sahabat Usman juga tidak   memita para sahabat untuktidak meriwayatkan hadis yang tidak  pernah didengar pada masa Abu Bakar dan Umar.
D.    Sahabat Ali bin Abi Thalib
Transmisi hadis pada masa Ali sama dengan sahabat sahabat yang lalu yaitu sangat berhati hati dalam meriwayatkan hadis.
D.          Transmisi Hadits pada Era Tabi’in
Tabi’in merupakan orang-orang yang belajar Al Qur’an dan Hadits lewat para Sahabat atau merupakan kalangan muslim yang tidak bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.
Para imam sependapat, bahwa akhir masa tabi’ina dalah 150 H. sedangkan akhir masa atba’ at-tabi’in adalah tahun 220 H.
1.      Periwayatan Hadits pada Masa Tabi’in
Pada Tabi’in, Islam telah menyebar ke berbagai daerah, seperti Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 Hijriyyah sampai ke Spanyol. Hal ini di sebabkan keberangkatan para sahabat dalam mengemban amanah memimpin daerah maupun menyebarkan ilmu agama. Para Tabi’in menerima hadits dari para sahabat baik di Masjid dan lain-lainnya. Hadits yang di terima berupa catatan-catatan maupun dalam bentuk hafalan.

Adapun Tokoh-Tokoh Hadits pada masa Tabi’in antara lain:

Ø  Madinah : Sa’id bin al Musayyab, Urwah bin Zubair, Ubaidillah bin Utbah bin Mas’ud, IbnuSyihabaz-Zuhri, Muhammad bin al-Munqadir,dll.
Ø  Makkah : IkrimahMaulaIbnu Abbas, Atha’ bin AbiRabah, Thawus bin Kaisan, Mujahid bin Jabr, dll.
Ø  Kuffah : Kamil bin Zaid an-Nakha’I, Amir bin Syurahil as-Sya’bi, Sa’id bin Jubair al-Asadi, Ibrahom an-Nakha’I, Abu Ishaq as-Sabi’I, Abdul Malik bin Umair, dll.
Ø  Syiria (Syam) :SalimibnAbdillah al-Muharibi, Abu Idris al-Khulani, Abu Sulaiman ad-Darani, dll.
Ø  Mesir :Yazid bin Abu Hubaib, Umar bin al Harits, Khair bin Nu’aim al Hadhrami, Abdullah bin Sulaiman, dll.
Ø  Yaman :Hammam bin Munabbih, Wahb bin Munabbih, ThawusdanPutranya, Ma’mar bin Rasyid, Abdurrazaq bin Hammam, dll.
2.      Metode Transmisi Hadits pada era Tabi’in
Cara penerimaan dan penyampaian Hadits yang di sepakati Ulama ada delapan, yakni:
1.      As-Simaa’
Yaitu murid mendengar sendiri dari perkataan gurunya, baik dengan cara mengimlakkan maupun bukan, baik dari hafalannya maupun membaca tulisannya. Bentuk penyampainnya ialah dengan kalimat:

“sami’naa, sami’tu, haddatsanaa, akhbarnaa, anba’anaa, qoolalanaa, dzakarolanaa.”

2.      Al-Qira’ah ‘alaAsy-Syaikh
Yaitu dengan cara seorang murid membacakan hadits di hadapan gurunya, baik dia sendiri yang membacakan maupun orang lain yang membacanya, sedangkan dia mendengarkannya. Shighat ada’ al-Hadits (bentuk menyampaikan hadits) yang digunakan perawi atas dasar metode tersebut adalah:

“Qoro’tu ‘alaiih” (saya telah membaca di hadapannya).

“Quri’a ‘alaihi wa ana asma’u” (dibacakan oleh seseorang dihadapannya (guru) sedang saya mendengarkannya).

“Akhbarnaa Qiroo’atun ‘alaihi” (telah mengabarkan pada kami secara pembacaan di hadapannya).

“Anba’anii qiro’atun ‘alaihi”  (telah memberitahukan kepadaku secara pembacaan di hadapannya).

3.      Al-Ijazah
Yaitu seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk menyampaikan hadits atau kitab kepada seseorang atau orang-orang tertentu, sekalipun sang murid tidak membacakan kepada gurunya atau mendengar bacaan gurunya.
Cara ini ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak memperbolehkan. Yang memperbolehkan hal ini menetapkan syarat bahwa sang guru harus benar-benar ahli ilmu dan mengerti kitab yang di ijazahkan, serta naskah muridnya harus menyamai dengan yang asli, sehingga seolah-olah naskah tersebut adalah aslinya. Bentuk penyampainnya diantaranya adalah:
“Akhbarnaa Fulaan Ijaazah” ( Fulan telah memberikan kabar kepada kami dengan cara ijazah).
“Fii maa Ajaazanii Fulaan” (mengenai apa yang telah di ijazahkan fulan pada kami).

4.      Al-Munawalah
Yaitu seorang  guru memberikan kitab asli atau salinan kitab yang telah dikoreksi kepada muridnya untuk diriwayatkan.
Cara ini terdiri atas dua macam, yaitu: al-munawalah yang dibarengi ijazah dan al-munawalah yang tidak dibarengi ijazah Shigat ada’ al-hadits yang di gunakan oleh perawi atas dasar al-munawalah, di antaranya adalah:

“Akhbarnaa munaawalatan” (telah memberikan kabar kepada kami dengan cara munawalah)
“Fiimaa Naawalanaa” (mengenai apa yang diberikan kepada kami dengan cara munaawalah).

5.      Al-Mukaatabah
Yaitu seorang guru menuliskan sendiri atau menyuruh orang lain untuk menuliskan sebagian haditsnya untuk diberikan kepada murid yang ada di hadapannya atau yang tidak hadir dengan jalan mengirim surat melalui orang yang dipercaya untuk menyampaikannya.
Cara ini terdiri atas dua macam,  yaitu: al-mukatabah yang dibarengi ijazah dan al-mukatabah yang tidak di barengi ijazah.
Bentuk penyampaiannya, berupakalimat:

“Kataba ilayya Fulaan” (Fulan telah menuliskan kepadaku).

6.      Al-I’lam
Maksudnya adalah pemberitahuan seorang guru kepada muridnya, bahwa hadits atau kitab yang diriwayatkan, dia terima dari seseorang tanpa menyatakan secara jelas. Cirinya:

“A’lamnii Fulaan…Qoola Haddatsanaa” (fulan telah memberitahukan padaku, diaberkata: telah menceritakan kepada kami).

“Fiima A’lamnii Syaikkhii” (mengenai apa yang telah diberitahukan kepadaku dari guruku dengancara I’lam).

7.      Al-Washiyyah
Yaitu seorang guru ketika akan meninggal atau bepergian jauh, meninggalkan pesan kepada orang lain untuk meriwayatkan kitabnya apabila dia meninggal atau berpergian. Periwayatan dengan cara ini menurut jumhur ulama dianggap sangat lemah. Cirinya:

“Aushaa ilayya Fulaan” (Fulan telah berwasiyat padaku)

“Akhbaronii Fulaan bil Washiyyati” (Fulan telah mengabarkan padaku dengan cara wasiyat)

8.      Al-Wijadah
       Maksudnya adalah seseorang memperoleh kitab orang lain tanpa proses sima’, ijazah atau munawalah. Misalnya seseorang menemukan hadits dari tulisan-tulisan orang semasanya atau tidak semasanya, tetapi dia tahu persis bahwa tulisan tersebut merupakan tulisan orang yang dapat dipercaya. Cirinya:

“Wajadtu fii kitaabi Fulaan” (saya menemukan dalam kitab fulan)

“Wajadtu Bi khoththi Fulaan” (Saya menemukan dalam tulisan Fulan)






BAB III
Penutup
1.      Kesimpulan
Proses periwatan hadis pada masa Nabi sampai wafatnya yang kemudian kepemimpinan khalifah dan generasi selanjutnya membuktikan bahwa betapa pentingnya menjaga hadis dari orang – orang yang memalsukan hadis dan semua generasi dari Nabi sampai generasi selanjutnya menunjukkan pengontrolan yang tinggi terhadap penyebaran hadis untuk mencegah adanya hadis hadis palsu.
2.      Saran
Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir nabi hendaklah dijaga dengan sangat hati – hati. Hadis adalah sumber kedua ajaran Islam, untuk itu pentig bagi kita untuk mengetahui ilmu dan perkembangannya. 









Daftar Pustaka
Suparta M.A, Dr. H. Munzier.2013.Ilmu Hadits.Jakarta:Rajawali Press
http://wardahcheche.blogspot.com/2013/11/periwayatan-hadis.html
Zuhri, Muh,. 2003. Hadis Nabi telaah Historis dan Metodoogis. Yogyakarta :tiara wacana jogja
Thahhan, Mahmud,. 2004. Ulumul hadis. Yogyakart: Titian ilahi Press.
Khon, abdul Majid, 2009. Ulumul hadis. Jakarta :  Amza.
Share this :FacebookGoogle+Twitter
Transmisi Hadis Nabi, Sahabat, dan tabi'in
Diposting olehUnknowndi00.05
Description : MAKALAH TRANSMISI HADITS Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah Al – qur’an dan Hadits Dosen Pengampu : Ahmad Dahl...
Rating :4.7 stars based on35 reviews
1 komentar
Anonim
Anonim28 Januari 2022 pukul 13.46

Coin Casino - Get The Highest Welcome Bonus & More
Coin Casino has the highest choegocasino bonus offered by any US online casino. This site is operated by PlayTech, a UK casino software provider. 바카라 The 인카지노 minimum deposit on your first

Reply✖

Posting Lebih BaruBerandaPosting Lama